Wednesday, November 24, 2010

R2C Peduli Untuk Merapi (1)

Aahhh… Alhamdulillah, akhirnya relawan perwakilan R2C tiba juga di Posko Dissaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Sleman. Rupanya Posko Utama itu berjarak cukup jauh dari tempat-tempat pengungsian, apalagi dari lokasi kampung-kampung yang tersapu awan panas. Sepertinya diluar bayangan kami. Walaupun begitu, DMC telah menebar 12 Posko Satelit di empat kabupaten bencana.

Alhamdulillah yang kedua, sumbangan barang berupa pakaian, makanan, peralatan MCK, perlengkapan wanita dan anak-anak yang merupakan titipan/amanah dari para perorangan maupun lembaga yang ada di Bali telah selesai didumping. Secara tanggung jawab, tertunaikan sudah amanah kami terhadap barang-barang yang memenuhi separuh bak truck ukuran container tanggung itu.

Bertemu Mas Iman (Kepala DMC Pusat), kami diperkenalkan kepada para relawan DMC yang pada umumnya masih berstatus mahasiswa dan sedikit dari kalangan professional. Saat itu memang sedang dilakukan evaluasi rutin setiap malam hari. Menurut cerita Mas Iman, para relawan tersebut selalu berjibaku tak kenal lelah siang dan malam. Pernyataan tersebut dibenarkan dengan fakta bahwa usai evaluasi malam itu pukul 20.00 WIB, kami pun ikut rombongan Mbak Gita (Relawan Medis) dkk menuju Sekolah Ceria yang digagas DMC di area pengungsian desa Kemusuh Bantul.

Sekitar 300 pengungsi tertampung di Kediaman Almarhum Presiden Suharto, Kemusuh Bantul. Namun sayang, kedatangan kami malam itu terlambat. Para pengungsi lebih dahulu pulang ke rumah mereka masing-masing pada sore harinya, lantaran desa yang mereka tempati dinyatakan aman.

Agar tak sia-sia, kami berinisiatif membantu Bu Wito yang juga masih berhubungan saudara dekat dengan Pak Harto, melakukan packing sembako. Menurutnya, sembako tersebut akan dibagikan kepada 300 warga yang sebelumnya mengungsi di salah satu rumah mantan presiden RI ke-2 tersebut.

“Sampeyan saking pundi Mas?”
“Kulo saking Mbali Bu. Baru aja nyalurkan bantuan dari masyarakat Bali.”
“Asli Mbali to?”
“Mboten Bu, kulo saking Kalimantan. Niki konco kulo saking Madiun. Konco kulo niki sampun nikah, anake sampun kaleh..”
”Olaaa, cilik-cilik anake loro!” (maksudnya: si candra)
…………………………………………………….sepenggal obrolan santai saat packing.

Perjalanan berlanjut, menuju pusat kota sekitar alun alun kota Jogjakarta. Tapi hanya lewat, perjalanan sesunggungnya adalah menuju stadion Maguwoharjo.


23.30 WIB
Baru saja usai berkunjung ke stadion Maguwoharjo. Tempat terbesar para pengungsi merapi. Tapi sepi. Tak seramai yang biasanya. Atau tak seperti yang diberitakan oleh TV ONE selama ini. Para pengungsi hanya tinggal beberapa kerumunan orang di beberapa Lorong-lorong Stadion. Mereka pun sedang asik terlelap. Setelah sebelumnya larut oleh hiburan beberapa BAND DANGDUT. Yah..Sekedar menghilangkan penat, pelipur duka dan lara.

Sebagian besar pengungsi sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Mereka yang tetap tinggal ternyata adalah yang rumahnya hangus terbakar oleh Wedus Gembel tak bersisa selain abu dan puing-puing. Ada juga yang tetap bertahan dipengungsian karena trauma. Ketakutan masih membayang dalam benak mereka. Terutama disaat malam itu tiba. Saat ketika angin darat bergerak menuju laut. Disaat itulah awan panas menerjang. Saat warga lereng merapi terlelap…hingga tak dapat menjumpai pagi…

“Anu Mas, lek isuk ngono tiang mriki neng omah resek-resek. Tapi le bengi mbalek merene maneh. Ora wani turu neng omah, soale gununge durung aman. Wedhi lek awan panas kuwi teko maneh” ,tutur Bu Siti, salah seorang pengungsi yang rumahnya berjarak 15 km dari puncak merapi (kira kira begitu bahasa jawa Versi Kalimantannya. Bu Siti bertutur dengan bahasa jawa Halus..)

Satu jam setelah mengitari lorong-lorong pengungsi, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Posko utama Dissaster Management Center (DMC) di Sleman. Sebelumnya sempat juga mengintip stok bantuan yang menumpuk dari banyak lembaga dan instansi. Bejibun! Rumor bahwa pakaian saat ini berlimpah dan tidak dibutuhkan memang benar adanya…

23.50 WITA
Judulnya lapar..
Diperjalanan menuju Posko Utama, sekitar 7 menit sebelum sampai, Hanafi Padang dan Candra tergoda jajanan penjual Gudeg Jogja yang menggelar lesehan makanan malam diemperan sebuah bengkel dekat UPN.
“Opi iki mbak?”
“Suwiran ayam Mas..”
“Iki?”
Krecek Mas..”
“Opo iku krecek?”
“Kulite sapi niku loh Mas”
“Lek iki?”
“Kuwi bothok ati rempelo Mas”
“Yo wes, kabeh yo, ditambah telur ojo lali. Segone ojo akeh-akeh. Ngombene kabeh teh anget wae yo..”

Nyam nyam nyam… seporsi nasi gudeg plus telur rebus warna coklat, bothok ati rempelo, suwiran ayam, kare tahu, dan segelas teh hangat cukup mengganjal rasa lapar dan pelengkap rasa kantuk yang mulai menyerang..

By :
Hanafi Jenggot
Hanafi Padang
Candra Aris


(Bersambung ke hari ke-2…)

-----------------------

Artikel Terkait



0 comments:

Post a Comment

R2C Bali | Jalan Sehati © 2009. Design by :Yanku Templates Redesign|Admin: Akh.Alim Mahdi